Tampilkan postingan dengan label Swasembada Pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Swasembada Pangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Februari 2019

Brebes Masih Dipercaya Penyangga Beras Jateng

Brebes – Produksi padi Gabah Kering Giling (GKG) nasional periode Januari-September 2018 mencapai 49,57 juta ton dari 9,54 juta hektar luas lahan panen. 6 (enam) provinsi di Pulau Jawa (Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY) masih mendominasi produksi dengan capaian 28,08 juta ton atau 56% dari total produksi nasional.


Bahkan, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur berada di urutan teratas dengan produksi masing-masing 9,31, 8,75 dan 8,1 juta ton. Sedangkan provinsi di luar Jawa, penyumbang terbesar adalah Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan masing-masing 5,13 dan 2,49 juta ton. Data berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA).

Untuk wilayah Jateng sendiri, Kabupaten Brebes termasuk dalam enam Kabupaten penyumbang beras terbesar. Kementan RI dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi mentargetkan LTT (Luas Tambah Tanam) Oktober 2018-Maret 2019 sebesar 73,5 hektar. Target ini masih di urutan ke tujuh dari Kabupaten Grobogan, disusul Blora, Cilacap, Pati, Sragen dan Demak, yang masing-masing 132,4 hektar, 106,4 hektar, 85,6 hektar, 84,5 hektar, 83,2 hektar dan 81 hektar (data dari Kodam IV Diponegoro tanggal 6 Februari 2019).

Menyikapi tugas capaian tersebut, TNI yang sudah MoU dengan Kementan RI, terus melakukan upaya guna mendorong para petani mempercepat tanam dan menambah luas tanam. Terlihat Serka Jamaludin, Babinsa Koramil 06 Kersana Kodim 0713 Brebes bersama Sriyani, Staf BP3K Dintan Kabupaten Brebes, melaksanakan pendampingan kepada 20 orang petani dari Kelompok Tani (Poktan) Mekarsari di areal persawahan seluas 15 hektar Desa Sindangjaya dengan penyemprotan hama padi blas. Rabu (6/2/2019).

Babinsa juga memotivasi petani agar kedepan lebih memaksimalkan penggunaan pupuk, pasalnya harga jual padi organik lebih tinggi dibanding padi biasa sehingga tentunya akan berimbas kepada kesejahteraan petani itu sendiri. Sebagai gambaran, harga padi biasa berkisar 9 ribu/kilogram sedang padi organik antara 14 ribu-15 ribu/kilogram.

Jamaludin menyatakan bahwa yang dilakukannya guna mensukseskan program swasembada dan ketahanan pangan pemerintah yaitu membantu mengendalikan inflasi sub sektor klaster padi. Sementara Ketua Poktan tersebut, H. Dartim mengaku merasa terhormat ada petugas dari Dinas Pertanian dan TNI mau terjun ke sawah. (Utsm-Aan0713).

Jumat, 01 Februari 2019

Tak Mau Gagal Panen, Petani Banjarharjo Brebes Semprot Blas

Brebes - Belajar dari pengalaman pahit terserang blas tahun 2017-2018 lalu, para petani di Kabupaten Brebes khususnya Desa Cikuya Kecamatan Banjarharjo, melaksanakan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di areal persawahan seluas 10 hektar Kelompok Tani Subur. Sabtu (2/2/2019).

Dibenarkan Kasturi Ketua Poktan bahwa, usia tanam padi kelompoknya antara 35-40 hari. "Kami bergotong-royong bersama BPP Banjarharjo, Kepala Desa, PPL, Babinsa Koramil 14 Banjarharjo Kodim Brebes serta 35 orang anggota tani, melakukan penyemprotan fungisida terhadap hama blast yang menyerang padi," ungkapnya saat dimintai keterangan mengaku senang dan antusias mendapatkan pendampingan.


Sementara diterangkan Ketua PPL Desa Cikuya, Casman bahwa, penyakit ini disebabkan oleh jamur pyricularia oryzae, menjadi ancaman serius bagi tanaman padi di banyak negara. Blas punya potensi menjadi epidemi dalam skala luas atau pandemi, di Indonesia sendiri, dikenal sebagai penyakit yang menyerang padi gogo. Antara periode 2001-2017, serangan blas meningkat hingga 12 kali lipat dan menjadi ancaman serius.

“Tahun 2018 sudah menjadi OPT utama padi terutama gogo. Terjadinya duplikasi lingkungan akibat teknik budidaya kurang selaras alam menjadi penyebab blas menyerang padi sawah,” terang Casman.

Dibeberkannya lanjut, pola pertanian dengan pupuk kimia tak seimbang (herbisida, fungisida, dan pestisida), telah membuat lingkungan sawah menjadi serupa dengan lingkungan padi gogo yaitu kadar Kalium (K) tersedia lebih rendah, Nitrogen (N) dalam bentuk NO3 karena air terbatas. Penggunaan pupuk N berlebih menyebabkan mikroorganisme menguntungkan dalam tanah tidak berkembang baik karena bahan organik alam kurang.

Hama ini dapat menyerang pada semua fase pertumbuhan, mulai dari daun, buku batang, leher malai dan malai, bulir dan kolar daun. Bahkan benih padi pun bisa terinfeksi. Penyakit ini memang mampu berkembang cepat membentuk ras baru. Satu bercak pada daun akan menghasilkan spora jamur baru sampai ratusan hingga ribuan dalam satu malam. Mudahnya pyricularia oryzae melakukan mutasi menjadi penyebab blas sangat tahan terhadap penggunaan fungisida.

“Saat kondisi lingkungan mendukung, satu siklus blast hanya membutuhkan waktu 1 minggu bersporulasi atau menyebarkan spora jamur melalui media udara, sehingga saat menginfeksi, terlihat bercak daun pada padi,” tandasnya. (Utsm-Aan0713).

Biji Kurma Kini Bisa Tumbuh di Indonesia Dengan Cairan Ajaib Wijayakusuma

Brebes – “Petani pahlawan bangsa yang bekerja tanpa lelah, setiap bulir adalah ibadah maka jangan biarkan dia lelah,” Itulah penggalan kalimat yang dilemparkan Aji (42) penemu pupuk cair ajaib Wijayakusuma Nutrition dari PT. Permata Agro Nusantara (PON) Purwokerto, saat memaparkan keunikan temuannya dihadapan puluhan petani, Poktan, Danramil dan Babinsa di Aula Kodim 0713 Brebes. Kamis sore (31/1/2019).
Perusahaan tersebut berkolaborasi dengan Korem 071 Wijayakusuma guna memperkenalkan nutrisi tanaman hayati ramah lingkungan. Terlihat dirinya menjelaskan gamblang kelebihan pupuk cair organik untuk menyelamatkan komposisi tanah lahan pertanian yang rusak seiring penggunaan pupuk pestisida berlebihan.


Aji juga menjelaskan tentang pembibitan kurma yang bisa tumbuh tunas setelah direndam cairan organik dan ditaruh dalam media tanam sembari disiram Wijayakusuma Nutrition. Disamping itu, para hadirin juga diperlihatkan bukti-bukti hasil pertanian lainnya. “Jangan malu jadi petani muda, karena nasib kemakmuran bangsa juga ditentukan petani,” serunya.

Lebih dalam diurainya tentang kelebihan produknya, meliputi memiliki kandungan semua unsur baik mikro maupun makro (glukosa, vitamin, protein, lemak dan bahan positif lainnya), bisa dicampur pupuk lain serta tidak ada masa kadaluarsanya, mengandung anti virus, bakteri, jamur, antibodi dan antioksidan, mengaktifkan dan meningkatkan unsur hara tanah, menggemburkan tanah dan menetralisir zat kimia (menetralkan PH tanah sehingga memaksimalkan penyerapan nutrisi), memperkuat akar, batang, daun, bunga dan buah serta mempercepat pertumbuhan, mempersingkat masa panen hingga 20 %, meningkatkan hasil panen secara bertahap hingga 50 % serta meningkatkan imunitas tanaman terhadap hama penyakit. Cairan ini bening, tidak berwarna, berasa dan berbau, produk panen juga aman, sehat/organik terbebas dari residu bahan kimia.

“Jadi mengandung unsur yang dibutuhkan serta sifatnya menyesuaikan kebutuhan tanaman secara sistematik. Untuk pembibitan, akan memaksimalkan pertumbuhan bibit walaupun suhu ekstrim, mempercepat pertumbuhan benih dan immune serta mampu merubah semua benih menjadi bibit unggul,” tegasnya.

Dalam 1 botol cairan ini, dapat dicampur dengan air antara 50-80 ml, tak hanyut oleh air siraman maupun hujan, bisa dicampur pupuk lain, bisa digunakan sebagai hidroponik/aquaponik dan bisa disimpan tanpa takut terkontaminasi (semakin lama disimpan semakin bagus) serta harga pas dikantong penggiat tani. Pasalnya, mampu memangkas harga pembelian pupuk 100 %, dan ketiga adalah efisien mengingat untuk semua jenis tumbuhan dan tempat ketinggian tanam. (Aan0713).

Pupuk Cair Ajaib Wijayakusuma Dikenalkan di Brebes

Brebes – Sosialisasi Pupuk Wijayakusuma Nutrition back to the nature di 9 Kodim/Kabupaten jajaran Korem 071 Wijayakusuma, juga singgah menyapa para petani, Kelompok Tani (Poktan) di Kabupaten Brebes. Aula Kodim 0713 Brebes, dijadikan tempat memperkenalkan nutrisi tanaman hayati ramah lingkungan ini. Kamis sore (31/1/2019).



Korem 071 menggandeng PT. Permata Agro Nusantara (PON) Purwokerto untuk memotivasi penggiat tani meningkatkan produksi panen. Nampak penemu, Aji (42), memaparkan kelebihan pupuk organik cair untuk menyelamatkan komposisi tanah lahan pertanian karena kerusakan yang diakibatkan penggunaan pupuk pestisida berlebih. “Kelebihannya adalah memiliki kandungan semua unsur baik mikro maupun makro (glukosa, vitamin, protein, lemak dan bahan positif lainnya), bisa dicampur pupuk lain serta tidak ada masa kadaluarsanya,” ungkapnya.

Lanjut dibeberkannya, pupuk cair ini juga mengandung anti virus, bakteri, jamur, antibodi dan antioksidan. Mengaktifkan dan meningkatkan unsur hara tanah, menggemburkan tanah dan menetralisir zat kimia (menetralkan PH tanah sehingga memaksimalkan penyerapan nutrisi), memperkuat akar, batang, daun, bunga dan buah serta mempercepat pertumbuhan, mempersingkat masa panen hingga 20 %, meningkatkan hasil panen secara bertahap sampai 50 %, meningkatkan imunitas tanaman terhadap hama dan penyakit.

“Untuk pembibitan adalah memaksimalkan pertumbuhan bibit walaupun suhu ekstrim, mempercepat pertumbuhan benih dan immune serta mampu merubah semua benih menjadi bibit unggul,” tegasnya.

“Ini adalah cairan bening, tidak berwarna, berasa dan berbau. Selain itu hasil panen juga akan sehat/organik karena terbebas dari residu bahan kimia. Jadi mengandung unsur yang dibutuhkan serta sifatnya menyesuaikan kebutuhan tanaman secara sistematik,” imbuhnya.

Keuntungan lainnya bagi petani adalah praktis karena dalam 1 botol dapat dicampur dalam air antara 50-80 ml, tak hanyut oleh air siraman maupun hujan, bisa dicampur pupuk lain, bisa digunakan sebagai hidroponik/aquaponik dan bisa disimpan tanpa takut terkontaminasi (semakin lama disimpan semakin bagus). Yang kedua adalah ekonomis dengan harga yang terjangkau bahkan mampu memangkas harga pembelian pupuk 100 %, dan ketiga adalah efisien mengingat untuk semua jenis tumbuhan.

Upaya antara Korem 071 ini, sebagai wujud perbantuan kepada Pemerintah melalui Kementan RI, dalam mendukung program ketahanan dan swasembada pangan nasional. (Aan0713).

Danrem 071 Wijaya Kusuma : “Pupuk Wijayakusuma Nutrition” Back To The Nature

Banyumas – Korem 071 Wijayakusuma berinovasi untuk kembali ke pemanfaatan alam, yaitu dengan memproduksi pupuk organik cair. Upaya ini sebagai wujud perbantuan kepada Pemerintah atau Kementan RI, dalam rangka mendukung program ketahanan pangan.


Untuk itulah sosialisasi Pupuk Wijayakusuma Nutrition di wilayahnya yang meliputi 9 Kodim atau Kabupaten, gencar dilakukan. Terpisah, dijelaskan Komandan Korem 071 Wijayakusuma, Kolonel Kavaleri Dani Wardhana bahwa, perlu adanya upaya menyelamatkan lahan pertanian karena faktor rusaknya komposisi tanah yang diakibatkan penggunaan pupuk berbahan pestisida berlebih “Back to the nature”.

Pupuk cair ini diyakini mampu mempercepat pertumbuhan tanaman, meningkatkan hasil panen, menambah kesuburan tanah dan organiknya. Selain itu, hasil panen juga akan aman atau terbebas dari residu bahan kimia.

“Tentu dalam pelaksanaannya memerlukan pola budidaya tanaman yang mengacu kepada konsep pertanian organik atau non kimia, disamping itu juga kami selalu melakukan pendampingan terhadap para petani,” terangnya, Kamis (31/1/2019).

Lebih lanjut, beberapa hari sebelumnya (26/1) juga telah dilakukan sosialisasi pupuk di Desa Binorong Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara kepada Gapoktan Tiga Serangkai, serta di Desa Bajong Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga kepada Gapoktan Tegalurung. Sedangkan pada (28/1) dilaksanakan peninjauan lokasi Demplot Kodim 0703 Cilacap di Desa Mulyasari Rt/Rw. 03 Kecamatan Majenang di Poktan Manunggal Karsa.

“Selanjutnya sosialisasi, motivasi dan pendampingan ini akan terus bergerak ke seluruh Kodim-Kodim Jajaran Korem 071 Wijayakusuma,” imbuhnya. (Korem071-Aan0713).

Senin, 28 Januari 2019

Harga Gabah dan Beras di Salem Brebes Masih Tinggi

Brebes – Monitoring harga GKP (Gabah Kering Petani) dan beras di wilayah Kecamatan Salem Kabupaten Brebes, dilakukan Babinsa Koramil 13 Salem Kodim 0713 Brebes, Sertu Sampara. Inspeksi dilakukannya ke rice mill/penggilingan beras yang berada di Desa Winduasri. Selasa (29/01/2019).

Terlihat ia melaksanakan pemantauan perkembangan harga di penggilingan wilayah binaannya, milik Suwardi (58). “Belum ada pengaruhnya sampai saat ini, namun kita harus melihat jangka panjang. Ini merupakan bagian upaya bersama untuk mengantisipasi terjadinya peningkatan harga beras,” kata Sampara berharap pasca panen raya di bulan Februari nanti harga gabah dan beras di Salem stabil.

Diketahui, harga beras di Kecamatan Salem untuk medium berkisar di angka 8.000/kg, gabah antara 5.200-6.000 rupiah/kg. Sedangkan untuk harga penjual di Salem 7.800 ribu rupiah/kg, di Pasar Induk Brebes antara 8.200-8.350 ribu rupiah/kg.

Sementara dijelaskan Suwardi, “Harga gabah dan beras bertambah naik walaupun musim tanam dan panen. Para petani belum bisa menurunkan harga gabah dan beras saat ini karena belum waktunya panen raya,” ungkapnya.

“Mungkin nanti setelah panen raya, harganya akan turun mengikuti harga pasaran,” imbuh sang pemilik rice mill. (Utsm-Aan0713).

Rabu, 23 Januari 2019

Kejar Target 13 Ribu Ton, TNI Brebes Turun Sawah Tanam Ciherang 600

Brebes – LTT (Luas Tambah Tanam), sekecil apapun lahan persawahan harus dimanfaatkan sebisa mungkin guna mensejahterakan petani. Inilah salah satu upaya yang dilakukan Babinsa Koramil 04 Tanjung Kodim 0713 Brebes dalam memotivasi petani desa binaannya, memaksimalkan musim penghujan 2019.


Masyarakat di Desa Sengon Kecamatan Tanjung, condong menggemari ciherang karena produksinya yang tinggi dan mudah perawatannya, selain potensi hasil antara 6-7 ton gabah/hektar. Nampak Babinsa setempat, Serda Sukirno bersama rekannya, melaksanakan pendampingan kepada buruh tani serta pemilik lahan, Kasnari, Rt. 01 Rw. 05, diareal miliknya seluas 0,5 hektar. Mereka mencabut benih padi varietas ciherang 600 kemudian menanamnya di selokan tanaman bawang Kasnari. Rabu (23/1/2019).

Disampaikan Suntoro, Ketua Gapoktan Murni Tani Desa Sengon, “Ciherang bisa dipanen pasca 100 hari setelah penanaman, lebih singkat dari jenis lainnya yang memerlukan waktu sekitar 125 hari. Padi ini juga cocok ditanam saat musim tanam kedua, walaupun di daerah kekurangan air saat padi sudah menua,” jelasnya.

Jenis ciherang adalah padi galur yang kini banyak jenisnya, mulai dari ciherang janger, jumbo, 600, SS, putih, super, dempo dan ciherang jonggol. “Disebut ciherang 600 karena, dalam 1 malai bisa menghasilkan 600 butir gabah. Namun di lapangan, patokan itu tergantung dari kondisi tanah dan pemupukannya, yaitu antara 400-500 bulir/malai,” lanjutnya.

Diketahui, definisi ciherang meliputi tinggi antara 85-100 cm, usia 95-100 hari, batang sedang, bentuk tegak, warna gabah kuning bersih dan lebih lonjong, rasa nasi pulen dan enak, kerontokan sedang serta tahan wereng coklat dan blast.

Sementara menurut Babinsa, pendampingannya dilakukan demi mendukung Upaya Khusus (Upsus) pemerintah melalui Bulog Kabupaten Brebes, yang menargetkan wilayahnya menyumbang swasembada pangan nasional 2019. “Di tahun ini, Bulog Brebes menargetkan 13.000 ton panen petani terserap, sedangkan untuk 10.000 tonnya sebagai suplai nasional,” ungkapnya. (Aan0713).

Senin, 21 Januari 2019

Bulog Berharap Nasionalisme Petani, Pemilik Rice Mill dan Tengkulak Brebes

Brebes – Bulog Sub Divre IV Pekalongan yang merupakan tangan panjang Kementan RI di wilayah Karisidenan Pekalongan, terus melakukan inovasi guna mengakselerasi kemajuan pertanian di wilayah Pantura demi terwujudnya swasembada pangan nasional 2019.


Komitmennya adalah mencapai target serap beras sebanyak 68.200 ton di tahun ini, sedangkan untuk Kabupaten Brebes ditargetkan terserap 13 ribu ton, dengan catatan 10 ribu ton untuk ekspor. Dijelaskan Rasiwan, SE, Kepala Bulog Sub Divre IV Pekalongan bahwa, perlunya penyamaan persepsi mulai dari petani, Poktan, pemilik rice mill, tengkulak maupun TNI, guna mencapai target pemerintah tersebut sehingga tercipta stabilisasi harga.

“Masa tanam di Indonesia hanya tiga kali dalam satu tahun dan tidak semua wilayah menjadi produsen padi. Sebagai contoh wilayah timur Indonesia, sehingga kalau dapat panen di semua wilayah tidak akan ada Bulog,” ungkapnya membuka sambutan.

Lanjut dibeberkannya, Bulog selalu membantu untuk menyerap hasil panen jika harga dibawah pasaran, ini sesuai harga standar HPP Inpres No. 5 tahun 2015. “Jadi tugas Bulog Sub Divre Pekalongan sangatlah jelas yaitu menyerap gabah/beras untuk di move ke nasional dan bukan untuk konsumsi Brebes saja. Jika harga pasaran lebih tinggi dari HPP, maka Bulog tidak memaksa petani menjual berasnya ke Bulog,” tegasnya.

Namun Rasiwan menghimbau, bagi para petani, Poktan dan pemilik rice mill yang mendapatkan bantuan dari pemerintah melalui Dinas Pertanian, agar sebisa mungkin menyisihkan 10 % hasil panennya demi kepentingan nasional. Ini juga sebagai jiwa nasionalisme. Pihaknya juga mengapresiasi Kodim 0713 Brebes melalui Dandim, Letkol Inf. Faisal Amri, karena telah merespon cepat dengan Upaya Khusus (Upsus) berupa LTT (Luas Tambah Tanam) dan Sergap (Serapan Gabah Petani) ke Bulog. Termasuk pendampingan, motivasi, penyuluhan serta pengawalan bantuan pemerintah sampai di tangan petani.

“Terima kasih telah menjalin komunikasi dengan kami dan Kodim, demi menjaga kondusifitas dalam perberasan. Semua harus tersenyum, petani juga. Kami juga siap 24 jam memberikan solusi jika ada kendala di lapangan,” imbuhnya sembari memberikan nomor ponsel, 081328610872. (Aan0713).

Payung Hukum TNI Brebes Dalam Keterlibatan UPSUS Pertanian

Brebes – Sejumlah pihak yang mempertanyakan eksistensi TNI memberikan perbantuan kepada pemerintah melalui Bulog dalam program pertanian, dijawab Dandim 0713 Brebes, Letkol Infanteri Faisal Amri dalam Rakor Upsus Swasembada Pangan Tahun 2019 di Aula Jenderal Soedirman Makodim. Senin (21/1/2019).


Dijabarkannya, campur tangan TNI ini sesuai dengan UU Keterlibatan TNI dalam pemberdayaan wilayah pertahanan negara (UU No.3 tahun 2002), Inpres No. 5 Tahun 2011 tentang pengamanan produksi beras nasional serta Nota Kesepahaman No. 3/MoU/PP.310/M/4/2012, dimana terjalin MoU antara Kementan RI dengan Kasad di bawah payung hukum Inpres tersebut. Sedangkan di tubuh sendiri, acuan pelibatan sesuai dengan UU No.34 tahun 2004 tentang tugas pokok TNI selain perang (OMSP).

Untuk mempertegas kerjasama dalam pencapaian swasembada pangan nasional ini, lebih lanjut pada tanggal 8 Januari 2015, dilakukan MoU kembali antara Kementan dengan TNI yang pada saat itu dijabat oleh Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, yang dihadiri seluruh Panglima Kodam dan Kadis Pertanian Se-Indonesia. Kerjasama aktif melibatkan 50.000 personil Babinsa untuk menutup kekurangan tenaga penyuluh pertanian yang dimiliki oleh Kementan dan Dintan Se-Indonesia. Selanjutnya, Inpres tersebut ditindaklanjuti oleh Kementan dan TNI dengan naskah kerja sama yang dievaluasi dan diperpanjang setiap tahunnya.

“Jadi pelibatan TNI dalam program Upaya Khusus (UPSUS) percepatan peningkatan produksi pangan sejalan dengan peran TNI dalam menjaga pertahanan nasional dan dasarnya juga jelas. Babinsa selalu terlibat dalam penyuluhan, pembangunan infrastruktur, pengawalan bantuan dan pemasarannya ke Bulog serta pencetakan sawah baru,” ungkapnya.
Lebih dalam dikupas Faisal Amri, membangun pertanian atau pangan sama halnya membangun pertahanan negara. Pasalnya, peranan pangan sangat strategis menyangkut kebutuhan masyarakat dan prajurit. Apabila produksi dan ketersediaannya kurang atau tidak merata, maka dapat mengancam pertahanan negara.

“Kementerian Pertanian menggandeng Babinsa untuk mengisi kekurangan tenaga penyuluh, karena PPL merupakan ujung tombak di lapangan. Harapannya jelas, tercapainya tenaga penyuluh sebanyak 72 ribu orang agar setiap desa didampingi satu penyuluh," imbuhnya, menjawab pertanyaan Widya A, SE dari UD. Sumber Beras Desa Gandasuli Kecamatan Brebes. (Aan0713).

Sabtu, 19 Januari 2019

Inilah Tugas TNI Brebes di Masa Damai “Kejar LTT”


Brebes – Tentara Nasional Indonesia sudah teken kontrak dengan Kementerian Pertanian RI guna membantu pemerintah menciptakan ketahanan dan swasembada pangan nasional. Salah satu upaya yang dilakukan dalam pencapaian target itu adalah dengan mengejar para petani agar segera mengolah sawahnya.

Nampak, Babinsa Koramil 07 Bulakamba Kodim 0713 Brebes, Serma Hernawan Fuadi sedang memaksimalkan LTT (Luas Tambah Tanam) padi serentak varietas IR 64 pada lahan seluas 1 hektar milik Rastam, di Desa Karangsari Kecamatan Bulakamba. Minggu (20/1/2019).


Terpisah, dijelaskan Dandim, Letkol Infanteri Faisal Amri bahwa, pendampingan yang dilakukan Babinsanya adalah memacu petani menanam system Jarwo (Jajar Legowo) dengan memaksimalkan Alsintan Traktor Roda 2.

“ini merupakan salah satu program TNI-AD dengan Kementan RI untuk meningkatkan luas tambah tanam petani khususnya di wilayah Kabupaten Brebes selagi musim penghujan. Saya berharap di tahun 2019 ini, Brebes dapat berdaulat beras,” ungkapnya.

Pihaknya juga akan memberikan pengawalan penjualan GKP (Gabah Kering Petani) ke Bulog daerah sehingga gabah tidak terjual dengan harga dibawah patokan pemerintah. (Utsm-Aan0713).

Jumat, 11 Januari 2019

Maksimalkan Insektisida, Petani Brebes Semprot WBC Pagi Hari

Brebes – Nilaparvata lugens atau WBC, adalah hama Wereng Batang Coklat type 1 dan 2, adalah hama yang menjadi momok para petani padi, di Desa Dukuhjeruk Kecamatan Banjarharjo pun demikian. Tak mudah memang usaha mereka untuk mensejahterakan keluarganya, seperti halnya Sutardi (52) dari Poktan Sri Rejeki.


Sutardi, terlihat mendapatkan suntikan spirit dari Serda Muslimin Babinsa Koramil 14 Banjarharjo Kodim 0713 Brebes di sawah. Tak hanya itu saja, Muslimin juga terjun membantu Ibu-ibu buruh tani guna melakukan penyemprotan massal dan pemupukan di sawah seluas 0,5 hektar milik lelaki paruh baya tersebut. Sabtu pagi (12/1/2019).

Pencegahan wereng dan penyakit tanaman padi lainnya, dilakukan guna mencegah berkembangnya hama termasuk ke areal sawah lainnya, karena apabila hama tersebut tidak segera diatasi bisa mengakibatkan gagal panen.

“Untuk penyemprotan insektisida dilakukan pada waktu yang tepat yaitu pagi hari, ini untuk menghindari hujan agar hasilnya lebih maksimal membunuh hama,” ungkap Sutardi sembari mengapresiasi Babinsa. (Aan0713).

Kamis, 10 Januari 2019

Inilah Alasan Petani Songgom Brebes Memilih Varietas Padi IR 64


Brebes – Inilah salah satu tugas dari Bintara Pembina Desa (Babinsa) dalam memacu serta meningkatkan LTT (Luas Tambah Tanam) petani, Poktan ataupun Gapoktan di wilayahnya. Sinergitas dengan Kementerian Pertanian RI dalam menciptakan ketahanan pangan, dilakukan Sertu Kamdani, dengan memberikan pendampingan tanam padi.


Babinsa Koramil 17 Songgom Kodim 0713 Brebes tersebut, bersama Sahidin, Ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Berkah Makmur Desa Wanacala Kecamatan Songgom serta para buruh tani, menanam jenis IR 64 di areal seluas masing-masing setengah hektar milik Darto dan Ramli. Jumat (11/1/2019).

Dikatakannya, “Selaku Babinsa, tetap harus semangat sebagai motivator para petani dalam mensukseskan program pertanian pemerintah. Saat tanam padi sampai panen dan pemasarannya tetap kita dampingi, termasuk mengawal distribusi pupuk bersubsidi,” ujarnya berharap para petani menanam padi serentak jenis ini.

Diketahui, Varietas IR 64 menjadi pilihan petani setempat karena termasuk jenis padi yang tahan terhadap virus kerdil rumput yang dibawa oleh hama WBC (Wereng Batang Coklat/ nilaparvata lugens) type 1 dan 2, selain sangat digemari konsumen karena rasa nasinya enak, umur genjah (110-125 hari) dan potensi hasil yang tinggi yakni mencapai 5 ton/ha.

Karakter tinggi tanaman antara 65-85 cm dengan umur berbunga 59-63 hari, anakan produktif 11-20 anakan, umur tanaman 81-98 hari, bobot 1000 biji padi mencapai 21 gram. Sementara jumlah gabah per malai sebesar 35-105. Padi sawah ini juga hemat dalam konsumsi air, sehingga menjadikannya tanaman terendah diantara varietas lainnya. Kekurangannya hanyalah tidak  dapat  tumbuh  dengan baik pada lahan sawah irigasi dataran rendah yang mengandung konsentrasi tinggi logam besi. (Aan0713).

Rabu, 09 Januari 2019

Distribusi Pupuk di Brebes Juga Dikawal TNI

Brebes – Kerja sama yang sudah berjalan antara Kementrian Pertanian dengan TNI dalam upaya cipta kondisi ketahanan dan swasembada pangan nasional, coba dimaksimalkan oleh satuan kewilayahan. di wilayah Kabupaten Brebes, dalam hal ini Kodim 0713 Brebes melalui jajaran Koramilnya.

Seluruh Babinsa diwajibkan pimpinan melakukan pendataan dan pengawalan distribusi pupuk pemerintah sampai ke tangan petani/kelompok tani, termasuk pendampingan dari pengolahan lahan sampai penjualan GKP ke Bulog. Terlihat, Babinsa Kemukten Koramil 06 Kersana, Serka Jamaludin, mengecek harga pupuk dan obat-obatan pertanian di salah satu toko pengecer “Bina Tani Kersana.

“Kami bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes, memotivasi petani maupun kelompok tani untuk percepatan tanam padi dengan pola tanam jajar legowo, demi peningkatan hasil. Sedangkan untuk harga pupuk subsidi pemerintah di wilayah desa binaan Koramil, rata-rata masih sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah,” ungkapnya, Kamis pagi (10/01/2019).

Terpisah, terkait dengan tugas tersebut, Dandim 0713 Brebes Letkol Inf. Faisal Amri, SE, juga menekankan kepada seluruh Babinsa agar benar-benar menguasai wilayah binaan yang menjadi tanggung jawab masing-masing, disertai data dan dokumentasi yang otentik. Babinsa diharapkannya mampu menjalin komunikasi dengan seluruh unsur dan harus berperan aktif menggerakkan kelompok tani, guna membantu kendala yang dihadapi oleh para petani, sehingga peningkatan Luas Tambah Tanam yang ditargetkan pemerintah tercapai. (Utsm0713).

Tak Ingin Bencana, Masyarakat Rancawuluh Brebes Hidupkan Kembali Irigasi

Brebes – Guna melancarkan saluran pembuangan dalam cegah dini banjir puncak musim penghujan di wilayah Kabupaten Brebes, yang identik terjadi di daerah Pantura, masyarakat Desa Rancawuluh Kecamatan Bulakamba melaksanakan normalisasi irigasi desa dari sampah dan pendangkalan tanah bersama TNI. Kamis (10/1/2019).



Terlihat Dulhalim (47) TPK (Tim Pengelola Kegiatan) Desa Rancawuluh bersama masyarakat melaksanakan karya bakti pembersihan sampah saluran air di Rt. 04 Rw. 02, guna menghidupkan kembali suplai air untuk kebutuhan pengairan areal persawahan penduduk.

Di sela-sela gotong-royong, Serma Hernawan, Babinsa setempat dari Koramil 07 Bulakamba Kodim 0713 Brebes menyatakan bahwa, upaya tersebut diprakarsai pihaknya bersama TPK Rancawuluh, yang sebelumnya digelar koordinasi melalui rapat ramah tamah sederhana.

“Kami menghimbau kepada warga agar merawat saluran irigasi dalam upaya meningkatkan produksi pertanian. Selain untuk membuang air dari lingkungan warga menuju ke Sungai Pakijangan. Kami hanya memotivasi para warga dan petani,” ucapnya. (Utsm0713).

Senin, 07 Januari 2019

Mudah Juga Murah, Alsintan TR2 Dorong Generasi Muda Brebes Bertani


Brebes – Upaya khusus dalam peningkatan produksi pertanian strategis melalui luas tambah tanam, juga dimotivasi oleh TNI dari Koramil 04 Tanjung Kodim 0713 Brebes. Terlihat Babinsa Tengguli Kecamatan Tanjung mendampingi para petani dari Poktan Sidodadi mengolah media tanam padi seluas 1 hektar. Senin siang (7/1/2019).

Alsintan TR2 (Alat Mesin Traktor Roda Dua), digunakan mengolah sawah milik Casmuri (56) Ketua Kelompok Tani Sidodadi Desa Tengguli. Diketahui tahun 2018 lalu, Kementrian Pertanian membuat terobosan baru pengentasan kemiskinan berbasis pertanian melalui Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja), dengan berbagai macam bantuan baik bibit, ternak, pupuk maupun berbagai jenis Alsintan. Bantuan diberikan bagi 1.000 desa dan 100 Kabupaten terpilih, termasuk Brebes.

Dikatakan Babinsa, Serda Sri Kuntoro bahwa “Optimalisasi Pemanfaatan Alsintan (OPA) guna mendorong percepatan tanam khususnya di lahan-lahan tidur atau produktif milik petani. Jadi kita pacu petani memaksimalkan musim penghujan ini,” ungkapnya.

Dijelaskannya juga, dengan memanfaatkan mesin tersebut, keuntungan petani akan lebih meningkat, pasalnya sejak pengolahan hingga panen waktunya lebih singkat. “Dengan TR-2, diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk melirik sektor pertanian, karena selain mudah juga murah biaya operasionalnya,” imbuhnya. (pendim0713brebes/Aan).

Rabu, 02 Januari 2019

“Maning-maning” TNI Brebes Olah Tanah Wong Gunung Sugih Salem


Brebes – Program Upsus (Upaya Khusus) Swasembada dan Ketahanan Pangan Nasional masih tetap menjadi prioritas pembangunan pemerintah saat ini. Guna mendukungnya, percepatan masa dan Luas Tambah Tanam (LTT) di awal tahun 2019, pendampingan dari TNI satuan Teritorial terus digalakkan.
Terlihat Babinsa Koramil 13 Salem Kodim 0713 Brebes, Serda M. Subhan, sedang membajak sawah milik salah satu petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Sri Rejeki, Desa Gunung Sugih Kecamatan Salem, lahan persawahan Rosidin seluas kurang lebih 2 hektar. Rabu (2/1/2019).

Subhan, pecinta burung murai batu ini sangat antusias mendampingi warga binaannya dalam bertani guna memacu kesejahteraan petani padi, selain merupakan tugas wajib membantu pemerintah melalui DPKP (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan) Kabupaten Brebes. Babinsa melakukannya mulai dari tahap pembibitan, penyiapan lahan yang akan ditanami, perawatan, panen, sampai dengan pemasaran nantinya ke Bulog Brebes.
Menurutnya, upaya ini dilakukan guna memberikan motivasi kepada para petani agar segera mempercepat masa tanam di musim penghujan. Pasalnya, kebiasaan petani pasca panen adalah terlambat menggarap kembali lahan sawahnya dengan alasan sibuk menjemur gabah hasil. “Hal ini perlu motivasi sehingga lahan tidak nganggur atau dibiarkan begitu saja setelah panen. Semoga sedikit bantuan ini dapat memacu semangat dan membantu dari segi biaya maupun tenaga,” harapnya. (pendim0713brebes/Aan).

Selasa, 01 Januari 2019

Cipta Ketahanan Pangan Brebes, TNI, P3A dan PPL Tanjung Terjun Ke Sawah


BREBES – Komandan Koramil 04/Tanjung Kodim 0713 Brebes, Kapten Infanteri Muhtadi bersama Babinsa terlihat membantu salah satu petani Desa Karangreja Kecamatan Tanjung, Nurpi’i Ketua Gapoktan Sari Tani dalam mengolah lahan sawahnya secara konvensional. Senin (31/12/2018).


Media cocok tanam diolah guna meningkatkan kesuburannya sebagai media tumbuh tanaman padi, ini sangat penting agar panen nanti sesuai harapan dan lebih mensejahterakan kehidupan para petaninya.

Dijelaskan Danramil bahwa, upaya tersebut selain untuk membantu mempercepat pengolahan sawah, juga bertujuan memberi support atau motivasi kepada petani desa binaan dalam mengelola sawahnya sehingga mendapatkan hasil panen lebih baik kedepannya. Kehadiran TNI yang bersinergi dengan P3A (Pemberdayaan Petani Pemakai Air) dan PPL (Petugas Penyuluh Pertanian) Kecamatan, memang sudah tak asing lagi dalam mensukseskan program pemerintah Swasembada dan Ketahanan Pangan khususnya di wilayah Kabupaten Brebes.

“Bagi kami selaku aparat teritorial, kegiatan membantu petani merupakan tugas sebagai tindak lanjut dari MOU antara Menteri Pertanian dengan TNI-AD tentang program Ketahanan dan Swasembada Pangan. Babinsa memiliki kewajiban memberikan Upaya Khusus (Upsus) berupa pendampingan kepada petani di wilayah desa binaan masing-masing,” terangnya.

Diharapkan pendampingan dapat lebih memacu percepatan tanam kembali, terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat juga diharapkan mereka akan memperoleh hidup yang tenang dan akan lebih mampu berperan dalam pembangunan wilayah. Turut hadir Ketua Gapoktan Sumber Hasil, Rosadi, Ketua P3A Kecamatan Tanjung, Sukendar, Babinsa serta anggota Gapoktan Sari Tani. (pendim0713brebes/utsm)

Senin, 31 Desember 2018

Padi IR 64 Diandalkan Para Petani Tanjungsari Brebes


BREBES | JATENG, suaramedia.id Adalah Serda Toni, salah satu Babinsa Koramil 03/Wanasari, Kodim 0713/Brebes yang aktif melakukan pendampingan kepada petani di desa binaannya, Desa Tanjungsari Kecamatan Wanasari. Termasuk membantu distribusi dan penyiapan benih padi. Senin (31/12/2018).

Terlihat dirinya bersama Kasdi (53) salah satu anggota Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Sukses 1 Tanjungsari, sedang menyiapkan IR 64 yang akan ditanam di lahan seluas 0,5 hektar milik lelaki paruh baya tersebut. Selain membantu pengangkutan, Babinsa sekaligus memberikan motivasi kepada para petani agar agar tetap semangat bercocok tanam musim penghujan guna meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Disampaikan Danramil, Kapten Infanteri Turiman dan dibenarkan oleh PPL setempat, Joko Prawiro bahwa, “Selama ini pihak kami bekerja sama dengan Babinsa guna mendampingi petani mulai dari persiapkan bibit, lahan, penanggulangan hama, panen dan bahkan sampai penjualan gabah ke Bulog. Termasuk penyuluhan kepada para petani maupun kelompok tani. Harapannya, dengan kehadiran kami, para petani semakin bersemangat dalam mengolah lahan serta mengetahui kendala dan mencarikan solusinya sehingga tidak mengalami gagal panen,” ungkapnya.

Upaya nyata ini juga diharapkan petani selalu memperhatikan pola tanam yang benar, sehingga hasil panen semakin maksimal dan program swasembada pangan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah akan cepat tercapai. Pewarta : (pendim0713brebes utsm/Editor Aan).

Rice Transplanter Dimaksimalkan Dinas Pertanian Brebes, Kejar Luas Tanam


Brebes - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dintan dan KP) Kabupaten Brebes menggelar Demonstrasi Alsintan (Alat Mesin Pertanian) di lahan praktek Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Mandiri Desa Kedungneng Kecamatan Losari. Senin (31/12/2018).

Demo yang dipimpin oleh Kabid Sarpras Dintan dan KP Brebes, Ir. Furqon Amperawan, juga disaksikan Danramil 05 Losari Kodim 0713 Brebes Kapten Inf. Sutarno beserta Babinsa, Kepala BPP Losari H. Mulyadi, Perwakilan UPJA Se-Kecamatan Losari, Tokoh Masyarakat, Gapoktan setempat, Koordinator Penyuluh Pertanian serta seluruh Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) Kecamatan Losari.

Dalam keterangannya Ir. Furqon Amperawan, sebagai Upaya Khusus (UPSUS) peningkatan produksi dan produktivitas pertanian padi dalam mencapai kedaulatan pangan, demo Rice Transplanter ini dilangsungkan. Ini juga agar tanam padi yang tak bisa tepat jadwal dikarenakan masalah sulitnya tenaga kerja manusia sebagai penggarapnya dapat diatasi.

“Produksi tanaman padi di Brebes sebagian besar menghasilkan beras dengan kualitas premium sehingga memiliki kualitas terbaik, sehingga harga jualnya juga yang tertinggi di Jawa Tengah. Inilah yang perlu dijaga, dipertahankan dan ditingkatkan kelangsungan produksinya,” beber Furqon yang berharap terjadi peningkatan produksi 30 persen di tahun 2019 nanti.

Disampaikannya lanjut, dalam waktu dekat Kecamatan Losari akan mendapatkan jatah Percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) pada Januari 2019 seluas 30 hektar, dengan pembagian 25 Ha tanam manual dan 5 Ha tanam menggunakan Rice Transplanter. (pendim0713brebes utsm/Editor Aan)

Kodim Brebes Salurkan Beras Untuk Masyarakat Terdampak Krisis Ekonomi Covid-19

Brebes – Kodim 0713 Brebes kembali menyalurkan bantuan kepada sejumlah masyarakat terdampak krisis ekonomi pandemi covid-19, yang belum se...