Tampilkan postingan dengan label Pendampingan Babinsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendampingan Babinsa. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 April 2019

PPL, POPT dan Babinsa Dampingi Petani Proteksi Padi dari Hama WBC

Brebes – Gerdal (Gerakan Pengendalian) hama Wereng Batang Coklat (WBC) yang rentan terjadi pada periode tanam Oktober 2018-Maret 2019, dilakukan Gapoktan Mekar Jaya Desa/Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes di areal persawahan seluas 20 hektar. Selasa (16/4/2019).

Dikatakan Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Radi, Spt bahwa, pihaknya bersama para Babinsa Koramil 03 Wanasari Kodim 0713 Brebes dan Koorpro Ismail Marjuki, melakukan pendampingan sebagai langkah dalam menjaga capaian luas panen dengan memitigasi risiko serangan hama padi milik pelaku utama pertanian/petani.


Dikatakannya, “Penggunaan pestisida kimia secara berlebihan akan meningkatkan populasi hama. WBC akan resistensi dan resurgensi jika pengetahuan petani terhadap siklus pemberantasannya kurang,” ucapnya.

Diterangkannya lanjut, sebagai penyuluh, pihaknya juga didukung petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) sebagai salah satu ujung tombak proteksi tanaman nasional, guna memperkuat sistem surveilans dan deteksi dini dari serangan organisme pengganggu tanaman.

Sementara dibenarkan POPT Kecamatan Maryadi, Sp bahwa, apabila penanganan kegiatan perlindungan tanaman tidak efektif dan tepat, dapat mengakibatkan produktivitas nasional menurun, ketahanan pangan goyah, serta penurunan devisa negara dari ekspor produk – produk pertanian.

“Untuk itu perlindungan tanaman harus dikelola secara profesional, komprehensif dan terpadu dengan mengikutsertakan semua pemangku kepentingan,” ungkapnya. (AS Pendim Brebes).

Selasa, 05 Februari 2019

Brebes Masih Dipercaya Penyangga Beras Jateng

Brebes – Produksi padi Gabah Kering Giling (GKG) nasional periode Januari-September 2018 mencapai 49,57 juta ton dari 9,54 juta hektar luas lahan panen. 6 (enam) provinsi di Pulau Jawa (Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY) masih mendominasi produksi dengan capaian 28,08 juta ton atau 56% dari total produksi nasional.


Bahkan, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur berada di urutan teratas dengan produksi masing-masing 9,31, 8,75 dan 8,1 juta ton. Sedangkan provinsi di luar Jawa, penyumbang terbesar adalah Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan masing-masing 5,13 dan 2,49 juta ton. Data berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA).

Untuk wilayah Jateng sendiri, Kabupaten Brebes termasuk dalam enam Kabupaten penyumbang beras terbesar. Kementan RI dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi mentargetkan LTT (Luas Tambah Tanam) Oktober 2018-Maret 2019 sebesar 73,5 hektar. Target ini masih di urutan ke tujuh dari Kabupaten Grobogan, disusul Blora, Cilacap, Pati, Sragen dan Demak, yang masing-masing 132,4 hektar, 106,4 hektar, 85,6 hektar, 84,5 hektar, 83,2 hektar dan 81 hektar (data dari Kodam IV Diponegoro tanggal 6 Februari 2019).

Menyikapi tugas capaian tersebut, TNI yang sudah MoU dengan Kementan RI, terus melakukan upaya guna mendorong para petani mempercepat tanam dan menambah luas tanam. Terlihat Serka Jamaludin, Babinsa Koramil 06 Kersana Kodim 0713 Brebes bersama Sriyani, Staf BP3K Dintan Kabupaten Brebes, melaksanakan pendampingan kepada 20 orang petani dari Kelompok Tani (Poktan) Mekarsari di areal persawahan seluas 15 hektar Desa Sindangjaya dengan penyemprotan hama padi blas. Rabu (6/2/2019).

Babinsa juga memotivasi petani agar kedepan lebih memaksimalkan penggunaan pupuk, pasalnya harga jual padi organik lebih tinggi dibanding padi biasa sehingga tentunya akan berimbas kepada kesejahteraan petani itu sendiri. Sebagai gambaran, harga padi biasa berkisar 9 ribu/kilogram sedang padi organik antara 14 ribu-15 ribu/kilogram.

Jamaludin menyatakan bahwa yang dilakukannya guna mensukseskan program swasembada dan ketahanan pangan pemerintah yaitu membantu mengendalikan inflasi sub sektor klaster padi. Sementara Ketua Poktan tersebut, H. Dartim mengaku merasa terhormat ada petugas dari Dinas Pertanian dan TNI mau terjun ke sawah. (Utsm-Aan0713).

Jumat, 01 Februari 2019

Tak Mau Gagal Panen, Petani Banjarharjo Brebes Semprot Blas

Brebes - Belajar dari pengalaman pahit terserang blas tahun 2017-2018 lalu, para petani di Kabupaten Brebes khususnya Desa Cikuya Kecamatan Banjarharjo, melaksanakan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di areal persawahan seluas 10 hektar Kelompok Tani Subur. Sabtu (2/2/2019).

Dibenarkan Kasturi Ketua Poktan bahwa, usia tanam padi kelompoknya antara 35-40 hari. "Kami bergotong-royong bersama BPP Banjarharjo, Kepala Desa, PPL, Babinsa Koramil 14 Banjarharjo Kodim Brebes serta 35 orang anggota tani, melakukan penyemprotan fungisida terhadap hama blast yang menyerang padi," ungkapnya saat dimintai keterangan mengaku senang dan antusias mendapatkan pendampingan.


Sementara diterangkan Ketua PPL Desa Cikuya, Casman bahwa, penyakit ini disebabkan oleh jamur pyricularia oryzae, menjadi ancaman serius bagi tanaman padi di banyak negara. Blas punya potensi menjadi epidemi dalam skala luas atau pandemi, di Indonesia sendiri, dikenal sebagai penyakit yang menyerang padi gogo. Antara periode 2001-2017, serangan blas meningkat hingga 12 kali lipat dan menjadi ancaman serius.

“Tahun 2018 sudah menjadi OPT utama padi terutama gogo. Terjadinya duplikasi lingkungan akibat teknik budidaya kurang selaras alam menjadi penyebab blas menyerang padi sawah,” terang Casman.

Dibeberkannya lanjut, pola pertanian dengan pupuk kimia tak seimbang (herbisida, fungisida, dan pestisida), telah membuat lingkungan sawah menjadi serupa dengan lingkungan padi gogo yaitu kadar Kalium (K) tersedia lebih rendah, Nitrogen (N) dalam bentuk NO3 karena air terbatas. Penggunaan pupuk N berlebih menyebabkan mikroorganisme menguntungkan dalam tanah tidak berkembang baik karena bahan organik alam kurang.

Hama ini dapat menyerang pada semua fase pertumbuhan, mulai dari daun, buku batang, leher malai dan malai, bulir dan kolar daun. Bahkan benih padi pun bisa terinfeksi. Penyakit ini memang mampu berkembang cepat membentuk ras baru. Satu bercak pada daun akan menghasilkan spora jamur baru sampai ratusan hingga ribuan dalam satu malam. Mudahnya pyricularia oryzae melakukan mutasi menjadi penyebab blas sangat tahan terhadap penggunaan fungisida.

“Saat kondisi lingkungan mendukung, satu siklus blast hanya membutuhkan waktu 1 minggu bersporulasi atau menyebarkan spora jamur melalui media udara, sehingga saat menginfeksi, terlihat bercak daun pada padi,” tandasnya. (Utsm-Aan0713).

Rabu, 23 Januari 2019

Ingin Hak Suara Pemilu Kembali, Puluhan Warga Kalijurang Brebes Rekam e-KTP

Brebes – Sebanyak 46 orang warga masyarakat Desa Kalijurang Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes, melaksanakan perekaman dan percetakan KTP Elektronik. Hal ini sesuai instruksi dari Mendagri, agar masyarakat Brebes segera melakukan rekam e-KTP.


Dijelaskan Nadori, Petugas Perekaman Kecamatan bahwa, Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Brebes pada (31/12/2018) adalah, dari jumlah penduduk 1,9 juta terdapat 1.433.222 orang masuk kategori wajib KTP. Namun hingga jelang tahun baru jumlah yang sudah terekam baru mencapai angka 1.322.620 orang. Ini berarti masih ada 110.602 jiwa yang belum.

“Jika dinonaktifkan sesuai Permendagri pada awal Januari 2019, berarti mereka tidak bisa mendapatkan layanan publik semisal mengurus SIM, kredit bank, BPJS serta tidak mempunyai hak pilih dalam Pilpres maupun Pileg 2019 ini,” terangnya, Rabu petang (23/1/2019).

KTP akan aktif kembali jika sudah melakukan perekaman yang baru. Diketahui, Brebes menduduki rangking tertinggi Se-Jawa Tengah terkait jumlah penduduk yang belum rekam KTP. Awal Agustus, tercatat 190 ribu warga yang belum melakukannya. Sehingga untuk mengejar ketertinggalan, Disdukcapil Kecamatan menjemput bola dengan melakukan perekaman keliling secara maraton. Petugas mendatangi khususnya desa terpencil guna mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

Banyaknya agka yang belum rekam, dipengaruhi beberapa faktor yang antara lain alat peralatan, petugas di lapangan, kesadaran masyarakat, banyaknya penduduk yang masih merantau serta letak geografis desa yang tergolong pegunungan dan terpencil.

Kegiatan ini juga disaksikan Kepala Desa Tarsun beserta perangkatnya serta pendampingan dari Babinsa setempat, Sertu Ali Mahfur. (Aan0713).

Kejar Target 13 Ribu Ton, TNI Brebes Turun Sawah Tanam Ciherang 600

Brebes – LTT (Luas Tambah Tanam), sekecil apapun lahan persawahan harus dimanfaatkan sebisa mungkin guna mensejahterakan petani. Inilah salah satu upaya yang dilakukan Babinsa Koramil 04 Tanjung Kodim 0713 Brebes dalam memotivasi petani desa binaannya, memaksimalkan musim penghujan 2019.


Masyarakat di Desa Sengon Kecamatan Tanjung, condong menggemari ciherang karena produksinya yang tinggi dan mudah perawatannya, selain potensi hasil antara 6-7 ton gabah/hektar. Nampak Babinsa setempat, Serda Sukirno bersama rekannya, melaksanakan pendampingan kepada buruh tani serta pemilik lahan, Kasnari, Rt. 01 Rw. 05, diareal miliknya seluas 0,5 hektar. Mereka mencabut benih padi varietas ciherang 600 kemudian menanamnya di selokan tanaman bawang Kasnari. Rabu (23/1/2019).

Disampaikan Suntoro, Ketua Gapoktan Murni Tani Desa Sengon, “Ciherang bisa dipanen pasca 100 hari setelah penanaman, lebih singkat dari jenis lainnya yang memerlukan waktu sekitar 125 hari. Padi ini juga cocok ditanam saat musim tanam kedua, walaupun di daerah kekurangan air saat padi sudah menua,” jelasnya.

Jenis ciherang adalah padi galur yang kini banyak jenisnya, mulai dari ciherang janger, jumbo, 600, SS, putih, super, dempo dan ciherang jonggol. “Disebut ciherang 600 karena, dalam 1 malai bisa menghasilkan 600 butir gabah. Namun di lapangan, patokan itu tergantung dari kondisi tanah dan pemupukannya, yaitu antara 400-500 bulir/malai,” lanjutnya.

Diketahui, definisi ciherang meliputi tinggi antara 85-100 cm, usia 95-100 hari, batang sedang, bentuk tegak, warna gabah kuning bersih dan lebih lonjong, rasa nasi pulen dan enak, kerontokan sedang serta tahan wereng coklat dan blast.

Sementara menurut Babinsa, pendampingannya dilakukan demi mendukung Upaya Khusus (Upsus) pemerintah melalui Bulog Kabupaten Brebes, yang menargetkan wilayahnya menyumbang swasembada pangan nasional 2019. “Di tahun ini, Bulog Brebes menargetkan 13.000 ton panen petani terserap, sedangkan untuk 10.000 tonnya sebagai suplai nasional,” ungkapnya. (Aan0713).

Kodim Brebes Salurkan Beras Untuk Masyarakat Terdampak Krisis Ekonomi Covid-19

Brebes – Kodim 0713 Brebes kembali menyalurkan bantuan kepada sejumlah masyarakat terdampak krisis ekonomi pandemi covid-19, yang belum se...